Berbicara dalam Kebisuan

Monday, May 22, 2017

Jajang temanku
May 22, 20170 Comments
Aku memiliki teman laki-laki bernama Jajang. Kita berteman dekat sejak SD. Sering berangkat sekolah bersama, bermain tanah liat,  menyebrang jembatan tinggi, bahkan aku sering diajak bermain sepak bola.
Dia selalu memperlakukan semua anak dengan baik bahkan kepadaku pun begitu. Tidak memilih entah dia laki-laki atau perempuan. Menurutku dia anak yang sangat kreatif sejak kecil. Dia membuat kolam kecil untuk ikan yang dia tangkap memakai semen sebagai dasar tanahnya agar tidak rembes. Masa SD ku terasa lebih menyenangkan berkat dia.
Dulu waktu kecil aku sering membayangkan, suatu hari pasti ia akan menjadi orang hebat. Sekolah di tempat bagus (dulu belum terbayang Universitas besar seperti sekarang)  Ah betapa senang aku memiliki teman seperti dia.

Lalu seiring berjalannya waktu kita lulus sekolah SD. Aku melanjutkan SMP, kita melanjutkan sekolah ke tempat berbeda. Aku mulai jarang mendapatkan kabar. Mungkin karna sibuk juga.

Lulus SMP. Aku melanjutkan ke SMA negeri yang cukup bagus. Kemudian ibuku memberi kabar. Bahwa Jajang tidak melanjutkan sekolah. Aku bingung. Kenapa? Apa kendala biaya? Ah sayang sekali orang sepertimu tidak melanjutkan sekolah. Tapi pertanyaan itu tidak terjawab.  Aku semakin jarang bertemu dengan dia padahal rumah jarak rumahku tidak begitu jauh.

Sampai aku kuliah, waktu itu semester awal sekali.
Aku dengar Jajang mau menikah. Aku kaget. Eh? Kan umur kita masih belasan tahun. Tapi waktu itu memang sudah ada beberapa anak menikah.
Aku tetap memastikan pada ibu. Menanyakan kebenaran pernikahan Jajang.

"Mah. Emang bener Jajang mau nikah?"
"Iya. Kasian dia."
"Kok kasian?"
"Dia nikah karna perempuan nya hamil duluan."

Aku hanya terdiam. Aku kaget. Aku tau Jajang. Dia baik. Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Aku sangat yakin. Akhirnya masih tidak puas aku bertanya pada adikku, Uay.

"Uay, jajang beneran nikah?" kataku.
"Iya." jawab Uay santai
"Emang perempuan nya bener hamil duluan?"
"Iya.  Sama orang lain tapi bukan sama Jajang."

Akhirnya hari itu aku mendengar cerita panjang lebar dari Uay. Aku jadi tahu bagaimana asal usul ceritanya.
Jadi Jajang memiliki sahabat perempuan mungkin seperti aku dulu. Lalu perempuan itu hamil oleh laki-laki tidak bertanggung jawab. Jajangpun merasa tidak tega dan akhirnya memutuskan menikahi perempuan itu.
Aku ingin berteriak dan melarang sebenarnya.
Ah Jajang sudahlah. Kebaikan tidak perlu sejauh itu. Bagaimana nasibmu setelah ini? Lagipula itu kan bukan anakmu. Untuk apa repot repot!

Tapi itu tidak sampai pada ucapan. Hanya berkecamuk dalam pikiran. Aku termenung sedih. Ya Tuhan! Dia masih tetap menjadi orang baik yang ku kenal dulu. Bahkan rela mengambil keputusan sebesar itu.

Selang beberapa tahun,  aku bertemu lagi.
Anaknya sudah dua. Anak pertamanya ternyata berkebutuhan khusus (re : Autis). Tapi Jajang terlihat sangat sayang pada anak istrinya. Terlihat dia menyuapi dan menggendong anaknya. Lalu sesekali memeluk istrinya.
Ia sekarang bekerja serabutan. Aku tetap kagum padanya. Kebaikan hatinya mengalahkan apapun.

Reading Time:

Thursday, September 29, 2016

Museum Unik di Yogyakarta
September 29, 20161 Comments
Museum Ullen Sentalu

Kali ini aku mau ngajak kamu mengenal lebih dekat Museum Ullen Sentalu. Buat kamu yang memang suka jalan-jalan ke Museum. Kalo main ke Yogyakarta ah sayang banget melewatkan Museum sebagus ini.
Museum ini terdapat di daerah pakem. Jalan Kaliurang km 25, sebenernya kalo dari UGM cukup jauh naik ke atas. Udah daerah pegunungan yang cuacanya cukup dingin gitu.

Namanya Ullen Sentalu  merupakan singkatan dari bahasa jawa “ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang artinya adalah “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”.

Museum ini sebenernya gak keliatan kaya Museum pada umumnya, malah keliatan kaya gua gitu ketutup banyak pohon. Agak serem juga sih. Terus nyempil deh loket buat beli tiket.hehehe
tiket masuk Museum
Nah ini tiket masuknya bisa dibeli dengan harga Rp.30.000 saja (sudah termasuk pemandu wisata). Tapi dengan harga segini kamu gak akan nyesel karena fasilitas yang diberikan cukup eksklusif. Setelah membeli tiket kamu akan disuruh nunggu di depan.




gerbang masuk
Nah ini gambar gerbang masuknya, nanti kamu akan disuruh nunggu sekitar 10 menitan. Aku saranin kalo kesini jangan sendirian yah (walaupun jomblo) ya minimal ajak temen atau gebetan laaah pokoknya minimal berdua. Nanti kita bakal dijemput sama pemandu wisatanya kebetulan waktu itu aku dateng kesana berdua sama temen aku (ehemmm, beneran temen kok hehehe) terus ada satu lagi pasangan pengantin baru gitu ya jadi dua pasang dipandu sama mbak pemandu wisata yang cantik. Jadi nanti sistemnya kita bakal keliling museum selama 60 menit dan antre (gak dibikin masuk bareng semua soalnya kalo museumnya rame bikin ga fokus walaupun pake pemandu, ya gak?hehehe). Nah ini yang membuat Museum ini terasa eksklusif.

Pas masuk kamu bakal kaget sama arsitektur bangunannya, aku juga soalnya. aku fikir dari luar yang kaya gua itu isinya bakal kaya museum biasa yang bosenin. Ternyata bangunannya memang unik dan modern gitu. Ditambah pemandu wisata yang pandai mengemas cerita.

Di Museum ini terdapat beberapa ruangan yaitu
  1. Ruang Selamat Datang, yang merupakan ruang penyambutan tamu/pengunjung museum.
  2. Ruang Seni Tari dan Gamelan, yang berisi seperangkat gamelan yang dihibahkan oleh seorang pangeran Kasultanan Yogyakarta.
  3. Ruang Guwa Sela Giri, yang merupakan ruangan yang dibangun dibawah tanah. Di ruangan ini dipamerkan karya-karya lukis dokumentasi tokoh-tokoh dari Dinasti Mataram.
  4. Ruang Syair, yang menampilkan syair-syair yang ditulis oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam pada tahun 1939-1947.
  5. Royal Room Ratu Mas, yaitu ruangan yang dipersembahkan untk permaisuri Sunan Paku Buwana X.
  6. Ruang Batik Vorstendlanden, yang menampilkan koleksi batik.
  7. Ruang Batik Pesisiran, yang juga berisi koleksi kain batik.
  8. Ruang Putri Dambaan, yang menampilkan koleksi foto pribadi putri tunggal Mangkunegara VII dari kecil hingga menikah.
  9. Sasana Sekar Bawana, yang berisi beberapa lukisan raja Mataram.
Nanti ditengah-tengah ada ruang istirahat. Disitu kamu boleh istirahat dulu sekitar 10 menitan, duduk-duduk cantik atau ngaca. Ruangannya jadul klasik gitu. Sepi dan ah syahdu menyenangkan deh. Terus nanti kamu bakal disuguhi jamu (katanya bisa bikin awet muda). Rasa jamunya enak kok, manis gitu. Kayanya kalopun kamu gak doyan jamu bakal tetep mau minum jamu yang satu ini.

Tapi sayang kamu gaboleh ambil gambar didalam museum jadi cuma spot tertentu yang boleh ambil gambar atau difotoin mbaknya juga bisa. Mungkin biar orang penasaran dan mau berkunjung langsung kesana wkwkwk.
 
Fasilitas Museum ini cukup memadai seperti tempat parkir yang cukup untuk sedekar motor dan mobil. Di Ujung Museum juga ada Restoran Beukenhof dengan nuansa Gothic.

foto depan restoran, tinggal naik ke tangga
 
Nah sekian perjalanan aku ke Museum Ullen Sentalu. Jangan lupa piknik gais!



Reading Time:

Wednesday, September 28, 2016

Musim
September 28, 2016 2 Comments
Musim

Hujan, aku menyukaimu
Tapi sayang aku lebih menyukai Egi
Aku lebih sering merindukan Egi
Tapi ternyata hujan lebih sering menemuiku
Karena memang sekarang sedang musim hujan
Kenapa tidak ada musim Egi saja?
Pasti akan menjadi musim yang sangat aku sukai
 
Yogyakarta, 24 Sept 2016

Reading Time:

Monday, August 8, 2016

August 08, 2016 2 Comments
Bunyi suara kereta menderu pompa jantung
Pintu-pintu antar gerbong berderit mengaktifkan kehidupan pagi
Udara dingin begitu menusuk kulit dan tulang
Kursi-kursi berbaris begitu rapi

Kemudian aku duduk termenung di ujung kursi stasiun tugu
Waktu itu masih pukul dua. Gelap!
Padahal rasanya baru hitungan minggu meninggalkan kota ini
Tapi rindu yang melanda begitu luar biasa
Hanyut dalam malamnya suasana
Ada kau yang menemani bagai secangkir kopi

Pelukanmu membuatku terasa lebih hangat
Bayangan melanglang buana tentang dirimu
Senyum dan tawamu bagai kaset yang diputar berulang-ulang.
Ah kau memang ahlinya membuatku mabuk rindu


Stasiun Tugu Yogyakarta, 25 Juli 2016
Reading Time: