Bunyi suara kereta menderu pompa jantung
Pintu-pintu antar gerbong berderit mengaktifkan kehidupan pagi
Udara dingin begitu menusuk kulit dan tulang
Kursi-kursi berbaris begitu rapi
Kemudian aku duduk termenung di ujung kursi stasiun tugu
Waktu itu masih pukul dua. Gelap!
Padahal rasanya baru hitungan minggu meninggalkan kota ini
Tapi rindu yang melanda begitu luar biasa
Hanyut dalam malamnya suasana
Ada kau yang menemani bagai secangkir kopi
Pelukanmu membuatku terasa lebih hangat
Bayangan melanglang buana tentang dirimu
Senyum dan tawamu bagai kaset yang diputar berulang-ulang.
Ah kau memang ahlinya membuatku mabuk rindu
Pintu-pintu antar gerbong berderit mengaktifkan kehidupan pagi
Udara dingin begitu menusuk kulit dan tulang
Kursi-kursi berbaris begitu rapi
Kemudian aku duduk termenung di ujung kursi stasiun tugu
Waktu itu masih pukul dua. Gelap!
Padahal rasanya baru hitungan minggu meninggalkan kota ini
Tapi rindu yang melanda begitu luar biasa
Hanyut dalam malamnya suasana
Ada kau yang menemani bagai secangkir kopi
Pelukanmu membuatku terasa lebih hangat
Bayangan melanglang buana tentang dirimu
Senyum dan tawamu bagai kaset yang diputar berulang-ulang.
Ah kau memang ahlinya membuatku mabuk rindu
Stasiun Tugu Yogyakarta, 25 Juli 2016
.png)
Boleh ya ksih masukan ke puisi mu. Menurutku, ada baiknya dikoreksi penulisannya pada kata diujung, kasih spasi boleh kok. Ada lagi sih, hehe. Maksudnya dicerna juga EYD nya, makasih wahahahaha
ReplyDeletehehe iya mas terimakasih banyak saran nya sangat membangun witwiw
Delete